Hukum bacaan mad adalah aturan membaca panjang suara pada huruf Al-Qur'an. Secara garis besar, mad terbagi menjadi dua jenis utama: Mad Thabi'i (mad asli) dan Mad Far'i (mad cabang akibat sebab tertentu). Panjang bacaan dihitung dengan satuan harakat (ketukan).
Mad Thabi'i (Mad Asli)
Terjadi jika ada alif ( ا ) sesudah fathah, ya sukun ( ي ) sesudah kasrah, atau wau ( و ) sesudah dhammah. Panjangnya 2 harakat.
Contoh: قَالَ (qoola), يَقُوْلُ (yaquulu)
Mad Wajib Muttashil
Terjadi saat mad thabi'i bertemu dengan huruf hamzah ( ء ) dalam satu kata. Panjangnya 4 sampai 5 harakat.
Contoh: سَوَاءٌ (sawaa'un)
Mad Jaiz Munfashil
Terjadi saat mad thabi'i bertemu dengan huruf hamzah ( ء ) di lain kata (berbeda kata). Panjangnya 2, 4, atau 5 harakat.
Contoh: بِمَا أُنْزِلَ (bimaa unzila)
Mad 'Aridh Lissukun
Terjadi jika waqaf (berhenti) di akhir ayat, dan sebelum huruf yang diwaqafkan itu terdapat mad thabi'i. Panjangnya 2, 4, atau 6 harakat.
Contoh: الرَّحِيمِ (ar-rahiim) pada akhir surah Al-Fatihah
Mad Shilah Qashirah
Terjadi apabila ada ha dhamir ( ه ) diapit oleh dua huruf hidup (berharakat) dan tidak bertemu hamzah. Panjangnya 2 harakat.
Contoh: لَهُ مَا (lahu maa)
Mad Lazim Mutsaqqal Kilmi
Terjadi saat mad thabi'i bertemu dengan huruf bertasydid dalam satu kata. Panjangnya 6 harakat.
Contoh: وَلَا الضَّالِّينَ (walaadh-dhaalliin)