Hadits:
Abu Daud meriwayatkan dari Dhamdham bin Jaus yang berkata, “Aku masuk ke Masjid Madinah, kemudian seorang pria tua memanggil dan berkata, “Wahai anak Ibuku, kemarilah.” Padahal aku tidak mengenalnya. Dia berkata, “Janganlah sekali-kali kau berkata kepada seseorang, “Demi Allah, Dia tidak pernah mengampunimu selamanya dan mustahil kau masuk ke dalam surga.”
Aku bertanya, “Siapa dirimu? Semoga Allah merahmatimu”
Dia menjawab, “Abu Hurairah”.
Aku berkata, “Perkataan ini diucapkan oleh salah satu dari kami untuk sanak keluarga ketika dia tengah marah, atau diucapkan untuk isterinya atau pelayannya.” Dia berkata, “Sesungguhnya aku mendengar kisah dari Rasulullah SAW yang bersabda, “Ada dua lelaki dari Bani Israel yang saling bersaudara. Salah seorang dari mereka suka berbuat dosa dan yang satunya lagi tekun beribadah. Seorang yang tekun masih saja melihat saudaranya bermaksiat. Dia pun berkata, “Hentikan dari apa yang kau lakukan!”
Suatu hari dia mendapati saudaranya sedang melakukan dosa yang dianggapnya itu adalah sebuah dosa besar. Dia pun menegur, “Berhentilah!”. Dia (lelaki pendosa mengatakan. “Apa urusanmu denganku? Biarkan, ini adalah urusanku dengan Tuhanku.” Dia berkata, “Demi Allah, Dia tidak pernah mengampunimu dan kau mustahil masuk ke dalam surga”.
Kemudian Allah mengutus malaikat, Allah mencabut nyawa keduanya. Lalu keduanya berkumpul di hadapan Tuhan penguasa langit dan bumi. Allah berkata kepada lelaki tekun, “Apakah kau mengetahui diri-Ku atau kau berkuasa atas apa yang berada di dalam genggaman tangan-Ku?” Allah berkata kepada pendosa, “Kau telah Ku ampuni, masuklah ke dalam surga-Ku”.Lalu Allah berkata kepada malaikat, “Bawalah dia (lelaki tekun) ke neraka!” Sungguh dia telah celaka atas perkataannya sendiri.
Berikut kisah selengkapnya,
Kisah ini dimulai dari Dhamdam bin Jaus Al-Yamami yang mengisahkan ketika dirinya memasuki masjid Madinah. Ketika dirinya memasuki masjid, Al-Yamami bertemu dengan seorang pria tua yang rambutnya berwarna kuning bersama seorang pria muda di sampingnya. Baru memasuki masjid, ia sudah dipanggil oleh pria tua tersebut, “Kemarilah nak!
Dan aku pun menurutinya, kisah Al-Yamami. Begitu mendekat, pria tua tersebut langsung memberikan nasihat kepadanya, “Hai nak, jagalah lisanmu. Jangan pernah kau berkata bahwa Allah tidak pernah mengampuni dosa-dosamu dan mustahil kau masuk ke dalam surga.”
Al-Yamami terheran-heran, lantas bertanya, “Siapakah dirimu? Semoga Allah merahmatimu.” Pria tua tersebut menjawab, “Aku, Abu Hurairah” (periwayat hadits terbanyak). Kemudian Abu Hurairah melanjutkan ceritanya, bahwa beliau pernah mendengar dari Rasulullah SAW tentang kisah dua pemuda bersaudara dari Bani Israel.
Satu dari mereka adalah pemuda yang taat beribadah kepada Allah, adapun yang satunya lagi adalah saudaranya yang suka berbuat dosa dan maksiat. Pemuda yang baik ini selalu menegur saudaranya itu agar berhenti berbuat maksiat. Namun nasihatnya tidak pernah didengarkan. Sampai suatu ketika pemuda baik ini tidak tahan melihat kelakuan saudaranya, ia mengatakan, “Sungguh dosamu tidak dapat diampuni lagi, dan kau tidak pernah bisa masuk ke dalam surga.”
Lalu singkatnya, Allah SWT mencabut nyawa kedua bersaudara itu. Kemudian Allah bertanya dan menghakimi. Pertama Allah bertanya kepada pemuda yang baik itu, “Apakah kau benar-benar mengetahui tentang diri-Ku? Kau telah mencampur urusan-Ku kepada hamba-hamba-Ku, kau telah melampaui batas, apakah kau berkuasa atas segala yang telah Ku takdirkan kepada hamba-Ku? Sekali-kali tidak! Hanya Dia yang mengetahui tentang amal ibadah seorang hamba.”
Berbeda kepada saudaranya yang pendosa itu, Allah SWT dengan penuh rahmat-Nya mengampuninya, dan akhirnya ia masuk ke dalam surga. Namun kepada pemuda yang taat beribadah tetapi karena telah melampaui batas, Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dan memasukkannya ke dalam neraka.
Ibrah:
1. Perbanyaklah bergaul dengan orang tua, atau setidaknnya mereka yang lebih tua usianya dibandingkan kita. Karena mereka lebih banyak memiliki pengalaman dan mungkin juga ilmu. Akan sangat banyak yang bisa kita pelajari dari mereka para orang tua. Seperti wejangan atau nasihat-nasihat pasti akan banyak kita dengar dari lisan mereka. Salah satu contohnya yang dapat kita lihat dari kisah ini.
2. Janganlah kita suka “main hakim sendiri”. Ini memang salah satu penyakit yang sering menjangkiti masyarakat kita. Coba deh, kalau ada seseorang yang berbuat kriminal saja, seperti mencuri, merampok, dan sebagainya, kita tidak boleh main hakim sendiri, karena masih ada pihak berwajib yang lebih berwenang untuk itu, yaitu polisi. Begitu juga dalam masalah hal ibadah, tugas kita sebagai hamba hanyalah beribadah kepada Allah SWT, namun jangan pernah kita merasa bahwa diri kita yang lebih baik dari orang lain, jangan pernah merasa kita adalah orang yang paling banyak beribadah kepada Allah. Karena bisa saja masih banyak orang di luar sana yang rajin dan taat beribadah namun secara sembunyi-sembunyi, karena baginya ibadah itu adalah privasi, bukan publikasi. Wallahu a’lam.