Hadits:
Diriwayatkan dari Abu Burdah, menjelang sakratul maut, Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Wahai anakku, ingatlah, jangan pernah kita mengabaikan suatu kebaikan apapun sekecil mungkin.”
Dia bercerita, “Ada seorang lelaki yang menyendiri untuk beribadah di sebuah kuil selama berpuluh-puluh tahun. Dia tidak keluar dari kuilnya selain di hari Minggu.”
Dia berkata, “Di suatu hari Minggu, dia keluar. Kemudian setan menyerupai perempuan di kedua mata lelaki tersebut. Dia pun tinggal bersama perempuan itu selama berhari-hari. Kemudian disingkaplah tabir yang menutup kedua matanya, lalu dia pergi bertobat. Setiap kali melangkah, dia shalat dan bersujud.”
Dia berkata, “Ketika malam hari, dia berteduh di sebuah toko. Di sana terlihat ada dua belas orang fakir miskin. Dia merasa kelelahan dan melemparkan dirinya di antara mereka.
Di sana terdapat seorang pendeta yang setiap malam memberikan roti kepada mereka. Dia membagikan roti kepada setiap orang. Pemilik roti pun datang dan memberikan roti kepada setiap orang.
Dia melewati ahli ibadah dan mengiranya salah seorang fakir miskin. Dia pun memberinya roti. Salah seorang yang terlewat berkata kepada pemilik roti, “Mengapa aku tidak dapat? Aku sungguh kelaparan.”
Pemilik roti berkata, “Apakah kau melihat bahwa aku tidak mau memberikannya kepadamu? Tanyalah, apakah ada di antara teman-temanmu yang mendapatkan jatah lebih?”
Mereka berkata, “Tidak”.
Pendeta itu berkata, “Berarti malam ini kau tidak mendapatkannya”.
Si ahli ibadah mengambil roti yang diberikan pemilik roti kepadanya. Lalu, dia memberikannya kepada salah seorang fakir yang tidak memberikannya kepada salah seorang fakir yang tidak mendapatkan bagian. Di pagi harinya, mereka mendapati lelaki ahli ibadah ini telah meninggal dunia.
Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Lalu, puluhan tahun itu (ibadah) ditimbang dengan beberapa hari (maksiat) tidak sebanding”. Ia melanjutkan, “Kemudian sebuah roti (kebaikan) ditimbang dengan beberapa hari itu (maksiat), ternyata timbangan roti yang lebih berat.”
Abu Musa berwasiat lagi, “Wahai anakku, ingatlah si pemilik roti itu, dan jangan remehkan suatu kebaikan sekecil apapun.”
Berikut kisah selengkapnya,
Menjelang wafat, ada satu pesan dari Abu Musa Al-Asy’ari kepada anaknya, “Nak, ingatlah, jangan pernah kita mengabaikan suatu kebaikan apapun sekecil mungkin.”
Abu Musa melanjutkan dengan bercerita,
Dulu, hidup seorang lelaki yang penuh dengan kezuhudan dan meninggalkan kemewahan dunia. Hidupnya dipenuhi dengan beribadah kepada Tuhannya di sebuah kuil selama berpuluh-puluh tahun. Dia tidak keluar dari kuil tersebut kecuali di hari Minggu.
Ia keluar pun hanya untuk membeli perbekalan yang sekiranya cukup untuk memenuhi kebutuhannya selama beribadah di dalam kuil. Namun suatu hari, di hari Minggu, seperti biasa ia keluar dari kuilnya itu untuk membeli bekal. Di luar sana ia bertemu dan melihat seorang perempuan yang menarik hatinya.
Akhirnya ia tergoda, kemudian ia berdua-duaan bersama wanita tersebur di dalam kuil. Setelah beberapa hari ia baru menyadari apa yang telah ia lakukan itu. Dan ia sangat menyesali perbuatannya itu. Ia pun segera bertaubat.
Ia keluar dan pergi dari kuil tersebut karena telah digunakannya sebagai tempat bermaksiat. Di perjalanan ia dipenuhi rasa takut dan penyesalan yang luar biasa kepada Allah. Ia semakin taat dan rajin beribadah. Lalu di pertengahan malam, ia tengah berada di sebuah tempat toko roti. Ia sudah merasa sangat kelelahan, baik fisiknya, terlebih lagi rohaninya.
Di tempat itu ia melihat ada sekitar dua belas orang, yang nampaknya mereka itu adalah fakir dan miskin. Mereka sedang beristirahat, tak menunggu lama, ia pun lantas menghamparkan tubuhnya di antara mereka.
Tak lama kemudian, datanglah si pemilik toko roti yang dermawan. Ia memberikan roti kepada orang-orang fakir miskin itu. Termasuk juga kepada ia (ahli ibadah) yang sedang beristirahat di tempat yang sama, karena ia dikira juga termasuk dari mereka.
Namun setelah pembagian roti selesai, ada salah satu dari mereka yang tidak mendapatkan jatah roti, sementara roti yang untuk dibagikan itu sudah habis.
Maka segera si ahli ibadah itu memberikan rotinya kepada fakir miskin yang terlewatkan itu. Lalu keesokan harinya, mereka mendapati si ahli ibadah ini telah meninggal dunia karena kelaparan.
Lanjut Abu Musa Al-Asy’ari dengan berkata, “Berpuluh-puluh tahun ia beribadah namun telah dihapus dengan beberapa hari ia bermaksiat. Namun beberapa hari ia bermaksiat itu juga telah dihapus karena sepotong rotinya itu (memberikan roti kepada si fakir).
Ibrah:
1. Begitulah saudara-saudariku. Jangan remehkan suatu hal kebaikan apapun itu. Semua orang tidak ada yang lepas dari khilaf, tidak ada yang bersih dari dosa dan salah. Namun selalu ada kesempatan untuk kembali dan bertaubat kepada Allah SWT.
2. Kita dapat masuk surga atas rahmat dan kasih sayang Allah, bukan karena amal ibadah kita. Justru amal ibadah yang kita lakukan itu adalah untuk mendapatkan rahmat Allah SWT. Baru kemudian kita memasuki surga-Nya yang penuh dengan keindahan itu. Dan juga bukan seberapa banyak amal ibadah yang kita lakukan, meskipun itu juga penting, tapi yang lebih penting adalah seberapa ikhlas dan tulus kita mengerjakannya. Lihatlah kisah di atas. Sudah berpuluh-puluh tahun ia beribadah, namun dengan mudahnya Allah hapus karena ia telah bermaksiat selama beberapa hari saja. Layaknya Iblis yang Allah laknat, meskipun sebelumnya mereka adalah makhluk yang taat beribadah, namun karena mereka sombong dan tidak mau bersujud kepada Adam, akhirnya Allah usir mereka dari surga. Kurang lebih begitu juga dengan kita sebagai manusia.
3. Ada tips dan saran dari ulama dulu, yaitu, “Kalau kita belum mampu berlomba dengan orang shaleh dalam beribadah kepada Allah, maka sebaiknya kita berlomba dengan para pendosa dalam bertaubat dan beristighfar kepada Allah SWT.” Wallahu a’lam.