13 Sep, 2026
5 Menit Baca

“KETAKUTAN SEORANG HAMBA DAPAT MENURUNKAN RAHMAT-NYA”

“KETAKUTAN SEORANG HAMBA DAPAT MENURUNKAN RAHMAT-NYA”


Hadits:

Syaikhani (Bukhari dan Muslim) meriwayatkan dari Abu Sa’id dari Nabi SAW bahwasanya ada seorang lelaki yang hidup sebelum kalian. Dia telah dilimpahi harta oleh Allah. Tapi dia adalah orang yang tidak pernah berbuat kebaikan, dalam versi lain, dia tidak pernah menggali kebaikan di sisi Allah SWT.

Saat tengah sekarat, ia bertanya kepada anak-anaknya, “Ayah macam apa aku ini bagi kalian?”

Mereka berkata, “Sebaik-baiknya ayah”

Dia berkata, “Aku sama sekali belum pernah melakukan kebaikan. Maka aku perintahkan, jika aku mati, bakarlah mayatku, kemudian hancurkan, lalu sebarkan saat hari tengah badai. Sesungguhnya Allah telah menetapkan siksaan bagiku”. Dia lalu mengambil sumpah anak-anaknya untuk melakukan perintah itu.

Mereka pun melakukannya. Lalu, Allah mengumpulkannya lagi (sisa abu tubuhnya). Allah berkata, “Apa yang mendorongmu melakukan itu?” 

Lelaki itu berkata, “Ketakutanku kepada-Mu.” Allah pun menaunginya dengan rahmat-Nya. Dalam versi lain, ketakutannya kepada Allah dibalas dengan diberikan rahmat-Nya kepadanya. 

 

 

Berikut kisah selengkapnya,

 

Dahulu hidup seorang lelaki yang diberikan nikmat begitu banyak oleh Allah SWT, di antaranya adalah harta dan anak yang banyak. 

Namun lelaki itu menggunakan hartanya dengan menjadikan hidupnya boros dan tidak melakukan suatu perbuatan sedikit pun. Lalu menjelang kematiannya, dia mengumpulkan anak-anaknya dan bertanya kepada mereka, “Di mata kalian, aku ayah yang seperti apa bagi kalian?”

Anak-anaknya menjawab, “Engkau ayah yang terbaik bagi kami. Kau selalu memberikan hak kami dan telah membesarkan mengasuh kami dengan baik. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu sebagaimana Dia membalas kebaikan seorang ayah kepadanya anak-anaknya.”

Namun sang ayah berkata, “Tidak sedikit pun aku memiliki tabungan kebaikan di sisi Allah. Aku sangat takut kepada-Nya, dan Tuhanku pasti telah menyediakan siksaan yang berat bagiku.” 

Intinya lelaki ini sangat takut untuk bertemu dengan Tuhannya dan juga takut mendapatkan siksaan dari Tuhannya.

Kemudian ia memberikan wasiat kepada anak-anaknya yang terdengar sedikit mengancam, “Kalian akan melakukan apa yang aku perintahkan atau kalian tidak mendapatkan warisan dariku.” Dalam bahasa lain, “Aku akan memberikan warisanku kepada selain kalian”.

Lalu apa wasiat dari sang ayah tersebut?

Dia berkata, “Saat aku mati nanti, bakarlah aku. Nyalakan sebuah api yang besar dan lemparkan aku ke dalamnya. Lalu ketika aku sudah menjadi bara, hancurkan aku menjadi abu. Kemudian buanglah sebagian abuku ke laut dan sebagian lagi ke darat.”

Lalu anak-anaknya tetap mengikuti wasiat sang ayah ketika dirinya sudah meninggal dunia. Sang ayah ini menyangka bahwa dengan wasiatnya itu bisa menghindarkan dirinya dari penglihatan dan siksaan Allah SWT. Dia lupa bahwa Tuhannya telah berfirman, “Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka terjadilah sesuatu itu.” (Q.S. Yasin: 82)

Allah memerintahkan bumi dan berkata, “Kumpulkan bagian dari lelaki itu yang ada di dalammu, dan begitu pula Allah memerintahkan kepada makhluk-Nya yang lain, yaitu lautan.“ Kemudian Allah berfirman, “Jadilah! Maka seketika abu tersebut berubah membentuk kembali sosok sang ayah.

Allah bertanya, “Apa yang mendorongmu untuk melakukan perbuatanmu itu?” 

Dia berkata, “Karena aku takut kepada-Mu, membuatku melakukan hal ini. Karena sebenarnya engkau Maha Mengetahui segala apapun tentang diriku.” Kemudian Allah mengampuninya, memberikan rahmat-Nya, dan surga untuk-Nya.

 

Ibrah:

1.      Saudara-saudariku, yang harus selalu kita ingat adalah bahwa kita dapat masuk ke dalam surga adalah karena mendapatkan rahmat dari Allah SWT, dan kita juga bisa masuk ke dalam neraka karena murkanya Allah SWT. Oleh karena itu, jangan sepelekan hal-hal yang kecil apalagi besar tentang perbuatan baik dan juga perbuatan buruk. Karena sedikitnya perbuatan baik kita, namun kalau Allah menyukai dan meridhainya, maka itu bisa menjadikan kita masuk ke dalam surga-Nya. Namun sebaliknya, sedikitnya perbuatan buruk kita, namun perbuatan itu menjadikan Allah murka kepadanya, maka itu pun bisa menjadikan kita masuk ke dalam neraka. 

 

2.      Dalam Al-Quran, Allah berfirman, “Dan bergegaslah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu…”. (Q.S. Ali-Imran: 133)

Lelaki ini telah gagal dalam memanfaatkan atau menggunakan nikmat yang diberikan Allah SWT. Dia yang telah diberikan harta dan keturunan yang banyak, yang seharusnya ia gunakan untuk beramal dan beribadah kepada Allah, namun tidak sedikit pun ia gunakan untuk itu. Namun ulama telah mengatakan bahwa, “Kalau kita belum mampu berlomba dengan orang shaleh dalam beribadah kepada Allah, maka sebaiknya kita berlomba dengan para pendosa dalam bertaubat dan beristighfar kepada Allah SWT.” Dan itulah yang telah dilakukan oleh sang ayah di akhir hayat menjelang wafatnya. Dia merasa ketakutan yang luar biasa kepada Allah, maka Allah pun mengampuninya dan memberikan surga untuknya. Namun bukan berarti kita para pembaca harus seperti kisah di atas, kita berbuat dosa dulu sepuasnya lalu baru bertaubat, karena tidak ada yang tahu kapan ajal itu akan datang. Namun yang dapat dipetik hikmah dari kisah ini adalah selama nafas masih ada, selama ruh masih mendiami jasad, selalu ada waktu untuk bertaubat, ampunan Allah seluas langit dan samudera, jangan pernah sekali-kali kita berputus asa dan merasa lelah dalam meminta ampun kepada Allah, karena Allah pun tidak pernah lelah menunggu hamba-hamba-Nya yang memohon ampun dan kembali kepada-Nya. Wallahu a’lam.   

 

Diskusi 0

Belum ada diskusi di sini. Jadilah yang pertama!

Beri Komentar

Bagikan pemikiran atau pertanyaan Anda di bawah ini.