13 Sep, 2026
5 Menit Baca

“KISAH PEMBUNUH SERATUS JIWA MANUSIA”

“KISAH PEMBUNUH SERATUS JIWA MANUSIA”


Hadits:

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku tidak akan berbicara kepada kalian, kecuali apa yang langsung aku dengar dari Rasulullah SAW oleh kedua telingaku, bahwa beliau SAW bersabda, 

“Telah seorang lelaki sebelum kalian, dia berasal dari Bani Israel. Dia telah membunuh Sembilan puluh Sembilan nyawa, kemudian ia ingin bertaubat. Dia bertanya dan mendatangi seorang pendeta. Dia berkata kepada pendeta bahwa dia telah membunuh Sembilan puluh Sembilan nyawa, apakah taubatnya bisa diterima? Lalu pendeta tersebut berkata “Tidak”. (karena telah membunuh Sembilan puluh Sembilan nyawa). Kemudian laki-laki tersebut mengeluarkan pedang dari sarungnya dan dia membunuh pendeta tersebut. Laki-laki tersebut telah genap membunuh seratus jiwa manusia. Kemudian dia bertanya lagi kepada orang-orang tentang orang alim yang hidup di masa itu. Setelah ditunjukkan, laki-laki itu bertanya kepada orang alim tersebut dengan pertanyaan yang sama kepada pendeta yang pertama itu. Dia berkata bahwa dirinya telah menghilangkan seratus nyawa seseorang apakah masih bisa bertaubat? Kemudian orang alim tersebut menjawab, “Sangat bisa! Tidak ada yang bisa menghalangimu untuk bertaubat! Lalu orang alim tersebut menunjukkan sebuah tempat untuk dirinya hijrah. Dan mengatakan agar tidak kembali ke tempatnya itu, karena itu adalah tempat yang buruk. Kemudian laki-laki tersebut pergi mendatangi tempat atau daerah untuk dia berhijrah,, namun di pertengahan jalan ia meninggal dunia. Lalu malaikat rahmat dan malaikat pemberi adzab turun dan mereka berselisih. Akhirnya Allah mengutus malaikat yang menjelma sebagai manusia kemudian mendatangi mereka dan menjadi penengah di antara mereka. Dia berkata, “Bandingkan jarak antara dua tempat ini, jarak yang paling dekat darinya maka itulah tempat untuknya. Lalu malaikat mendapatinya bahwa laki-laki tersebut lebih dekat dengan tempat yang sedang ditujunya, maka malaikat rahmat-lah yang berhak menerimanya.”

 

Berikut kisah selengkapnya,

Kisah ini dimulai dengan hidupnya seorang laki-laki, sebagaimana riwayat dalam hadits, bahwa dia berasal dari Bani Israel. Ia hidup dengan penuh kerusakan dan ketersesatan. Hidupnya sudah berada dalam kekuasaan setan dan kungkungan Iblis. Dia telah menghabisi, melenyapkan sembilan puluh sembilan nyawa manusia. Ia membunuh dengan secara zhalim dan tanpa alasan yang benar. 

Wahai saudara-saudariku, bayangkanlah betapa besarnya dosa yang telah ia lakukan. Sedangkan membunuh satu orang saja, itu sudah cukup membuat dirinya diceburkan ke dalam neraka dan selamanya berada di dalamnya. 

Allah SWT berfirman,

“Dan barang siapa yang membunuh seseorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan adzab yang besar baginya.” (Q.S. An-Nisa: 93)

 Ayat ini sangat jelas mengatakan bahwa seseorang yang membunuh satu orang beriman saja, maka dosanya begitu besar, dan masuklah ia ke dalam neraka. Lalu bagaimana dengan membunuh sembilan puluh sembilan nyawa ini? Ganjaran apa yang pantas untuk diberikan kepada laki-laki ini?

Sedangkan dalam ayat yang lain, Allah SWT berfirman, 

“…..barang siapa yang membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia…..” (Q.S. Al-Maidah: 32)

Maka dalam keadaan seperti itu, ia ingin sekali bertaubat. Karena sesungguhnya kalau dosa seseorang setinggi gunung, maka ampunan Allah adalah seluas lautan samudera. Dia sendiri yang berfirman, 

“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dia lah yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (Q.S. Az-Zumar: 53)

Mengenai ampunan Allah, Rasulullah SAW juga bersabda, “Sesungguhnya Allah mengulurkan tangan-Nya pada malam hari agar pendosa di siang hari dapat bertobat kepada-Nya. Dia juga mengulurkan tangan-Nya pada siang hari agar pendosa di malam hari dapat bertobat hingga matahari terbit dari arah barat.” (H.R. Muslim)

Mungkin kita akan berpikir bahwa laki-laki tersebut telah melakukan perbuatan dosa yang begitu besar, dan sulit untuk diampuni. Namun janganlah lupa bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang penuh ampunan.

Menyadari dosanya begitu besar, ia ingin sekali bertaubat. Ia pun mencari orang yang terkenal alim di zaman itu dan ingin bertanya apakah dosanya masih dapat diampuni mengingat betapa kejam dirinya yang telah menghilangkan sembilan puluh sembilan nyawa manusia. Ia disarankan untuk mengunjungi seorang pendeta yang terkenal rajin beribadah. Ia bergegas menuju tempat pendeta yang telah ditunjukkannya itu. Sesampainya di sana, ia mendapati seorang pendeta yang sedang beribadah dengan sangat khusyuk. Tanpa pikir panjang laki-laki ini menemuinya dan lantas bertanya.

Sebelum bertanya ia bercerita bahwa dirinya telah membunuh sembilan puluh sembilan nyawa, “Lalu apakah aku masih bisa bertaubat?” Tanya laki-laki tersebut.

Mendengar cerita itu sang pendeta terkejut dan marah besar. Kemudian pendeta mengatakan bahwa dosamu sungguh besar, kau tidak dapat bertaubat! Melihat jawaban sang pendeta, menunjukkan bahwa dia telah melupakan ampunan dan rahmat Allah SWT yang begitu luas, serta menunjukkan keilmuannya yang sedikit itu. 

Memang terkadang antara orang alim dengan orang yang sekedar taat beribadah namun sedikit ilmunya hampir sama, sama halnya seperti seorang pemburu dengan seorang pemanah yang terlihat sama karena pakaiannya juga sama. Karena sesungguhnya seseorang yang alim itu jauh di atas mengungguli seseorang yang hanya rajin beribadah.  Dengan ilmunya itu, selain untuk beribadah dengan benar, orang alim dapat memberikan nasihat atau petuah kepada siapa pun yang sedang membutuhkan. Salah satunya adalah laki-laki ini.

Ketika mendengar jawaban sang pendeta, laki-laki tersebut marah dan merasa tidak terima dengan jawaban sang pendeta. Matanya terbelalak dan wajahnya memerah. Dia keluarkan pedang dari sarungnya, lalu ia tebaskan pedangnya kepada sang pendeta. Maka genaplah ia telah membunuh seratus jiwa manusia.

Usai membunuh pendeta tersebut, laki-laki itu semakin bertambah rasa kekecewaan dan putus asanya. Ia merasa ketika dirinya mendatangi seorang pendeta, bukannya terampuni dosa-dosanya, malah dosanya bertambah akibat telah menebaskan pedang kepada pendeta tersebut. Namun masih ada setitik cahaya dan harapan bahwa dirinya masih ingin sekali bertaubat kepada Allah SWT. Ia yakin bahwa Tuhan yang sesungguhnya adalah Dia yang selalu menantikan hamba-hamba-Nya untuk bertaubat. 

Ia terus mencari, akhirnya ia ditunjukkan kepada seseorang yang terkenal alim, yang telah diberikan cahaya hidayah dan keilmuan oleh Allah SWT. Lelaki berdosa itu mendatangi orang alim tersebut, kemudian ia bercerita dan bertanya dengan kalimat yang sama seperti ketika bertemu dengan seorang pendeta yang sebelumnya. Namun bedanya, kalau sebelumnya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan nyawa, kini ia telah genap membunuh seratus jiwa manusia setelah terakhir ia menebas seorang pendeta yang jawabannya membuatnya tidak dapat menahan amarahnya.

Setelah bercerita, laki-laki itu bertanya, “Apakah aku masih bisa bertaubat dan terampuni?” Seorang yang alim itu menjawab, “Sangat bisa! Siapa yang dapat menghalangimu untuk bertaubat?! Allahuakbar, hidayah Allah telah turun, hidayah Allah bisa datang berasal dari mana saja.

Dia SWT berfirman, “…..Dia memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (Q.S. Al-Baqarah: 213)

 Saudara-saudariku semua, seberapa besar dosa seseorang, selama dia tulus dan ikhlas, dan benar-benar ingin bertaubat dan kembali kepada Allah, kembali kepada jalan Allah yang lurus lagi diridhai, pasti akan Allah ampuni dosa-dosa itu.

“Dan Dia lah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. As-Syura: 25)

“Tetapi barang siapa bertaubat setelah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya.” (Q.S. Al-Maidah: 39)

“Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi yang bertaubat, beriman dan benar berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk” (Q.S. Thaha: 82)

Lelaki tersebut berbinar-binar wajahnya mendengar jawaban seorang alim tersebut. Benarlah, ilmu itu adalah cahaya bagi hati yang tertutup, dan lentera bagi jalan yang gelap. Orang alim tersebut memberikan nasihat kepada laki-laki itu agar segera meninggalkan tempat ia tinggal dahulu karena itu adalah tempat yang buruk, dan pergilah ke suatu tempat atau suatu desa yang terkenal baik dengan orang-orang yang taat beribadah menyembah Allah SWT.

Maka ia segera bergegas tanpa menunda sedikit pun hijrahnya itu. Kemudian sesuai dengan yang disebutkan hadits, saat ia sedang menempuh perjalanannya menuju tempat ia hijrah, di pertengahan jalan, ajal menjemputnya. Ia wafat, meninggal dunia.

 Kemudian malaikat rahmat yang bertugas memberikan ampunan turun dan berselisih dengan malaikat pemberi adzab. Disebutkan bahwa malaikat adzab berkata, “Dia belum pernah berbuat kebaikan sedikit atau sekali pun”. Namun malaikat rahmat berkata, “Dia telah menghadap kepada Tuhannya dengan hati yang bersih”.

Akhirnya mereka para malaikat itu berselisih pendapat.

Lalu Allah SWT mengutus satu malaikat yang bertugas menjadi penengah di antara para malaikat itu. Lalu dia mengatakan agar para malaikat itu membandingkan atau mengukur jarak tempat laki-laki tersebut meninggal. Kebanyakan kisah mengatakan bahwa laki-laki tersebut berada dekat dengan tempat ia hijrah, akhirnya ia masuk surga. Namun dalam kisah yang lain, pada awalnya laki-laki ini meninggal dan jaraknya lebih dekat dengan tempat ia maksiat dulu. Namun Allah SWT, yang menguasa langit dan bumi, memerintahkan agar bumi bergeser, yaitu tempat maksiatnya dahulu untuk bergeser agar menjauh, dan tempat yang sedang ia tuju untuk hijrah itu agar bergeser mendekat. Masyaallah. 

Lalu setelah dibandingkan, akhirnya laki-laki tersebut meninggal lebih dekat jaraknya dengan tempat yang sedang ia tuju untuk hijrah, agar dirinya menjadi manusia yang baik ketimbang dahulunya. Maka malaikat rahmatlah yang berhak menerimanya. Wallahu a’lam.

Kisah ini diabadikan di dalam Al-Quran, Surat An-Nisa ayat 100, 

“Barang siapa yang berhijrah di jalan Allah, maka mereka akan mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang berlimpah. Dan barang siapa yang keluar rumah dengan tujuan untuk berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menjemputnya (sebelum sampai ke tempat tujuan), maka sungguh telah ditetapkan pahala untuknya di sisi Allah, dan adalah Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. An-Nisa: 100)

 

Ibrah:

1.      Untuk melakukan sesuatu, harus ada atau dilandasi dengan alasan yang benar, terutama alasan yang dibenarkan oleh syariat. Baik itu perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Terlebih adalah perbuatan buruk. Bisa kita lihat, kisah di atas tentang seorang laki-laki yang telah membunuh Sembilan puluh Sembilan nyawa, kemudian menjadi genap membunuh seratus nyawa manusia, dengan alasan yang tidak dibenarkan. Jangankan seratus, ketika membunuh satu orang saja sementara syariat tidak membenarkan, tidak dalam menjalankan hukum qishash atau sebagainya, maka balasannya adalah neraka jahanam, dengan siksaan yang pedih dan abadi di dalamnya. Lalu bagaimana dengan membunuh seratus jiwa manusia? Namun Allah SWT adalah Tuhan yang penuh rahmat dan ampunan. Selagi siapa pun mereka yang mau bertaubat dengan sungguh-sungguh, pasti Allah akan mengampuni.

2.      Sebesar apapun dosa atau kesalahan kita, selalu ingatlah bahwa kita mempunyai Tuhan, yaitu Allah SWT yang pintu maafnya selalu terbuka lebar bagi hamba-hamba yang ingin bertaubat. Sebesar apapun, kecuali syirik (menyekutukan Allah), maka insyaallah dosa kita akan diampuni oleh-Nya. Jangan pernah kita menjauh dari ampunan-Nya. Jadi, kalau kita sudah melakukan perbuatan yang buruk dan berdosa, maka bersegeralah cepat-cepat untuk meminta ampunan Allah SWT. Bukankah begitu firman-Nya di dalam Al-Quran?

3.      Pentingnya sebuah ilmu. Pendeta yang pertama di dalam kisah ini menunjukkan akan kebodohan atau sedikitnya ilmu yang dia miliki. Dia mengatakan kepada laki-laki tersebut bahwa dosanya itu tidak dapat diampuni lagi, yang sehingga jawabannya itu menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Berbeda dengan orang alim yang kedua, dia telah menunjukkan keluasan ilmu yang dimilikinya, dan juga tidak melupakan keluasan rahmat dan ampunan Allah SWT.

4.      Tentang hijrah. Hijrah secara bahasa adalah berpindah. Namun hijrah itu setidaknya dapat kita bagi menjadi dua. Pertama adalah hijrah yang hanya berpindah dari kehidupan yang sebelumnya kurang atau tidak baik, kemudian berubah menjadi seseorang dengan kehidupan yang lebih baik lagi. Namun hijrah yang kedua adalah selain berpindah dari kehidupan yang sebelumnya tidak baik menjadi lebih baik, namun ada kalanya juga dibutuhkan untuk berpindah tempat tinggal. Inilah yang dianjurkan atau diperintahkan oleh orang alim tersebut kepada laki-laki ini. Berpindahnya tempat tinggal itu adalah karena tempat tinggal dia yang sebelumnya adalah lingkungan yang tidak baik dan penuh dengan kemaksiatan. Sehingga dianjurkan untuk pindah mencari tempat yang lebih baik yaitu bersama orang-orang shalih di dalamnya. Hijrah berpindah tempat tinggal juga telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang hijrah dari Kota Mekah menuju Kota Madinah. Wallahu a’lam.

Diskusi 0

Belum ada diskusi di sini. Jadilah yang pertama!

Beri Komentar

Bagikan pemikiran atau pertanyaan Anda di bawah ini.