Hadits:
Ahmad dan lainnya meriwayatkan dari Shuhaib yang berkata, “Ketika Rasulullah SAW mengerjakan shalat Ashar, beliau menggumamkan sesuatu yang tidak kami pahami dan beliau tidak mengatakannya kepada kami.
Kemudian dikatakan kepada beliau, “Sungguh ketika mengerjakan shalat Ashar, engkau bergumam ya Rasulullah?”
Rasulullah bertanya, “Kalian menyadari apa yang aku lakukan?”
Salah seorang berkata, “Benar”.
Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya aku teringat oleh salah satu nabi yang diberi bala tentara dari kaumnya, kemudian dia berkata, “Siapa yang bisa menandingi mereka?” atau “Siapa yang bisa melawan mereka?” atau dengan kalimat yang serupa itu..
Kemudian Allah mewahyukan kepada nabi tersebut, “Pilihlah untuk kaummu satu dari tiga hal ini: Aku menguasai mereka dengan musuh selain mereka, atau dengan kelaparan, atau dengan kematian.”
Nabi tersebut bermusyawarah dengan kaumnya. Mereka berkata, “Kau adalah nabi Allah, kami berpasrah padamu. Buatlah pilihan untuk kita.”
Rasulullah berkata, “Lalu nabi tersebut mengerjakan shalat. Saat merasa takut, mereka meminta pertolongan dengan shalat.”
Nabi tersebut mengerjakan shalat dan berdoa, “Jika musuh selain mereka maka jawabannya tidak, tidak juga untuk kelaparan, tetapi dengan kematian.” Lalu dia berdoa, “Tuhanku, tidak jika Engkau mengalahkan mereka dengan musuh selain mereka sehingga menodai kehormatan mereka.”
Rasulullah berkata, “Lalu mereka diterpa kematian selama tiga hari. Kurang lebih tujuh puluh ribu dari mereka meninggal dunia.”
Gumamanku yang kalian lihat adalah aku berdoa, “Ya Allah ya Tuhanku, dengan-Mu aku berperang, dengan-Mu aku meminta pertolongan, tidak ada kuasa dan kekuatan selain dengan-Mu.”
Berikut kisah selengkapnya,
Shuhaib mengisahkan bahwasanya Rasulullah SAW saat sedang shalat Ashar beliau bersuara seakan berkata tentang sesuatu. Kemudian usai sholat, salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tadi saat sedang shalat Ashar engkau seakan bergumam mengatakan sesuatu, apakah itu?”
Rasulullah SAW menjawab, “Apakah kalian menyadari apa yang aku lakukan tadi?”
Sahabat menjawab, “Iya, ya Rasulullah”
Kemudian Rasulullah bercerita, “Aku teringat dengan seorang nabi, dahulu dia diberikan nikmat oleh Allah dengan memiliki bala tentara dan pengikut yang banyak. Lalu nabi itu berbangga dengan jumlah pengikutnya yang banyak.
Kemudian nabi itu berkata, “Siapa yang bisa menandingi kalian? Atau siapa yang bisa melawan kalian? Atau mengatakan dengan kalimat yang serupa.
Akhirnya Allah SWT memberikan pilihan kepada mereka, yaitu agar pasukannya itu dikalahkan oleh musuh-musuhnya, atau dikalahkan dengan kelaparan, atau dengan kematian. Hal ini dikarenakan sang nabi telah merasa kuat dan bangga dengan jumlah pengikut dan bala tentaranya yang banyak itu.
Kisah ini ada kesamaan dengan peristiwa perang Hunain yang dialami oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Dimana para sahabat merasa kuat dengan jumlahnya yang banyak, lalu Allah memperingatkan melalui firman-Nya,
“Sungguh Allah telah menolong kamu (mukminin) di banyak medan perang dan (ingatlah) Perang Hunain ketika jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu tetapi (jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagimu, dan bumi yang luas itu terasa sangat sempit bagimu, kemudian kamu berbalik ke belakang dan lari tunggang langgang. Kemudian Allah menurunkan ketenangan pada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Dia menurunkan bala tentara (para malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menimpakan adzab kepada orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (Q.S. At-Taubah: 25-26)
Kemudian sang nabi memberikan pilihan ini kepada umatnya. Lalu umatnya mengatakan bahwa, “Engkau adalah nabi kami, engkau saja yang memilih, kami serahkan urusan ini kepadamu”.
Lalu nabi itu melasanakan shalat, usai shalat, ia berdoa, “Ya Allah, janganlah engkau kalahkan mereka dengan musuh-musuhnya, tidak juga dengan kelaparan, tetapi kalahkan saja mereka dengan kematian.”
Rasulullah berkata, “Maka Allah menurunkan kematian untuk mereka selama tiga hari. Sekitar tujuh puluh ribu pasukan dari mereka meninggal dunia.
Sementara suaraku yang bergumam itu adalah aku mengatakan, “Ya Allah, dengan-Mu aku berperang, dengan-Mu aku meminta pertolongan, dan tidak ada kuasa dan kekuatan kecuali dari-Mu ya Allah.”
Ibrah:
1. Tengok dan kembalilah kepada sejarah. Dalam kisah ini, Rasulullah SAW mencoba belajar melalui sejarah. Beliau belajar dengan mengingat kisah nabi terdahulu. Meskipun dalam kisah ini tidak disebutkan nama nabi dan umatnya siapa, namun setidaknya kisah ini cukup untuk menjadi pelajaran bagi Rasulullah SAW dalam mengemban risalah yang sedang dibawanya, dan juga dalam memimpin umatnya. Ingat saudara-saudariku, perbanyaklah kita belajar dari sejarah, karena akan banyak sekali pelajaran, pengalaman, atau ibrah yang bisa kita dapatkan dari melihat sebuah masalalu. Karena sesungguhnya sejarah adalah tempat kita melihat untuk melangkah lebih maju lagi ke depan.
2. Janganlah sombong. Semua ini adalah kepunyaan Allah SWT. Baik harta, kekuasaan, bahkan kekuatan pun adalah pemberian dari Allah. Semuanya hanyalah titipan yang suatu saat nanti akan diminta-Nya kembali. Dan kita bertanggung jawab atas itu semua. Kalau hari ini kita bangga dengan jabatan dan kekuasaan, maka ingatlah Fir’aun yang dengan mudahnya Allah tenggelamkan mereka bersama bala tentaranya itu di Laut Merah. Kalau hari ini kita bangga dengan banyaknya harta, maka ingatlah Qarun yang sampai saat ini hartanya masih sering ditemukan dan disebut dengan harta “Karun”. Begitu juga kalau hari ini kita bangga dengan nasab atau keturunan, namun kemuliaan itu tidak dimanfaatkan dengan baik, maka ingatlah Abu Jahal dan teman-temannya. Mereka memiliki nasab dan suku yang paling terpandang di bangsa Arab, yaitu Quraisy. Namun mereka sombong dengan nasab dan sukunya itu. Dan mereka telah menghina nabi-Nya, mereka yang paling gencar melawan dan menghadang risalah yang dibawa oleh Rasul-Nya, Rasulullah SAW, sehingga mereka mati dalam keadaan dilaknat oleh Allah SWT.